Analysis Framing antara Portal Berita
KOMPAS.com dan detiknews.com
Tentang Adanya Agenda Asing
Dibalik Peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia

Nama Anggota Kelompok:
Rizky Endarsyah (……………)
Asep Kurniawan (10.31.3624)
Rizal Roshady (……………)
Edwin Suprayogi (……………)
Reza Afrizal (……………)
Mata Kuliah:
Metode Penelitian Komunikasi
STIKOSA-AWS
2012
BAB I
ABSTRAKSI
Tidak ada yang meragukan industri kretek
Indonesia telah memberikan pemasukan dana yang luar biasa besar bagi negeri
ini, ikut serta dalam menggerakkan roda perekonomian nasional dan daerah,
menyediakan lapangan kerja bagi petani dan buruh, dan juga penghasilan bagi
jutaan orang lainnya yang terkait langsung maupun tak langsung dengannya.
Industri Hasil Tembakau (IHT) di Indonesia menempati kedudukan penting dan
menonjol, baik dalam publisitas di ruang publik maupun dalam hal sumbangannya
terhadap keuangan negara.
Selama satu dasawarsa terakhir, nama –
nama para pengusaha rokok (sebagai pembeli terbesar produksi perkebunan
tembakau) hampir tidak pernah absen dari peringkat puncak daftar pembayar pajak
terbesar di Indonesia. Pada saat yang bersamaan, cukai rokok menunjukkan bahwa
sub-sektor industri ini tidak pernah kalah bersinar dibanding sumber – sumber
lain penerimaan negara dari pajak.
Upaya berbagai pihak untuk melawan
produksi rokok di Indonesia sejauh ini bertumpu pada tiga argument: menggangu
kesehatan, fatwa haram, dan kesejahteraan semu. Dua argumen pertama, sudah
menjadi polemik dan perdebatan di khalayak umum. Tentang kedua perdebatan
tersebut bisa kita lacak dan kita simak di berbagai media massa. Namun
persoalan ‘kesejahteraan semu’,
tampaknya belum banyak yang didalami dan dikupas. Padahal, kalau kita simak,
argumen dibalik alasan ‘kesejahteraan
semu’ itu hanya berisi klaim dan hitungan umum yang seakan logis. Atau
kalau pun tidak, merupakan data mati, otak – atik statistik yang tidak
mempertimbangkan aspek lain yang juga lebih penting, yaitu manusia.
Oleh karena itu dalam kelompok kami akan
melakukan suatu penelusuran yang mampu melihat semua itu dengan lebih jernih
dan adil. Untuk melihat apakah kesejahteraan di dalam industri rokok itu
menciptakan kesejahteraan semu atau tidak, harus dikemukakan berdasarkan data
mendasar dan sahih mengenai parameter – parameter kesejahteraan yang ada.
BAB II
LATAR BELAKANG
2.1 Latar Belakang Masalah
Pendapatan negara dari cukai kretek
selalu naik setiap tahunnya. Ironisnya, kampanye untuk memusuhi kretek kian
gencar. Kemudian, berbagai peraturan diberlakukan agar ruang bagi penikmat
kretek semakin sempit. Pertanyaan yang muncul, adakah agenda tersembunyi dari
dinamika ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mencoba membahas
wilayah - wilayah yang memiliki kaitan dengan kretek. Dari situ tampak
bagaimana letak strategis kretek terhadap budaya maupun ekonomi Indonesia, baik
sebelum maupun sesudah kemerdekaan.
Ada sinyalemen kuat yang menunjukkan
adanya usaha untuk melemahkan industri tembakau dan kretek Indonesia. Pertama -
tama hal itu terlihat dari sejarah industri beberapa komoditi, seperti minyak
kelapa, gula, garam, hingga jamu. Awalnya komoditi - komoditi tersebut memiliki
makna ekonomis. Namun, karena kampanye global yang dilakukan oleh negara - negara
maju, perlahan - lahan industri tersebut meredup. Menurunnya pendapatan negara,
serta nasib pilu petani yang menjadi ujung tombak penghasil bahan baku, adalah
kenyataan pahit yang harus ditelan.
Salah satu contohnya adalah kampanye
untuk memperburuk citra minyak kelapa di Amerika Serikat. Hal ini terus
menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya tumbuh keyakinan bahwa minyak kelapa asal
Indonesia berbahaya bagi kesehatan. Hal yang sama terjadi juga dengan industri
kretek. Lembaga dunia yang paling gencar mengampanyekan anti tembakau adalah
WHO (World Health Organization). Namun belakangan diketahui, kampanye tersebut
didukung oleh perusahaan yang memproduksi obat - obatan penghenti kebiasaan
merokok. Sinyalemen berikutnya adalah, hadirnya regulasi anti - tembakau
seperti Undang - Undang Kontrol Tembakau di Amerika Serikat, yang melarang
penjualan rokok yang mengandung zat adiktif seperti cengkeh. Selain itu, ada
sebuah kutipan di twitter yang menyebutkan, “Ya, YLKI adalah salah satu antek
zionis Bloomberg yg menerima duit 5,5 miliar utk agenda bunuh tembakau.
#tolakRPPtembakau”. YLKI adalah Yayasan Lembaga Kesehatan Indonesia.
Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh
produksi dan peredaran rokok mentol yang diproduksi di Amerika Serikat. Untuk
membatasi impor tembakau ke dalam negeri, Amerika Serikat juga membebani bea
masuk yang sangat tinggi bagi produk tembakau.
Bahkan kretek pun dilarang masuk,
termasuk dari Indonesia. Sementara itu, perusahaan rokok terbesar di negeri
itu, melebarkan sayapnya di luar negeri dengan mencaplok perusahaan rokok di
puluhan negara. Ini adalah cara untuk melindungi industri tembakau dalam negeri
Amerika Serikat. Muaranya, industri kretek dalam negeri mengalami ancaman. Ini
tidak hanya akan memengaruhi pendapatan dari cukai rokok, melainkan juga
meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, industri kretek adalah salah satu
industri yang banyak menyerap tenaga kerja.
Jika hal ini tidak ditanggapi secara
serius, industri kretek nasional yang pernah mengalami masa keemasan, akan
bernasib sama dengan industri lain yang kini hanya menyisakan jejak kecil. Itu
sebabnya lembaga dan otoritas terkait perlu melakukan sesuatu untuk
mencegahnya.
2.2 Rumusan Masalah
·
Bagaimana perspektif antara portal
berita KOMPAS.com dan detiknews.com dalam konteks pemberitaan tentang
peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia?
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
4.1
Analisis
Framing
Pada dasarnya framing adalah metode
untuk melihat cara bercerita (story
telling) media atas peristiwa. Cara bercerita itu tergambar pada “cara
melihat” terhadap realitas yang dijadikan berita. “Cara melihat” ini
berpengaruh pada hasil akhir dari konstruksi realitas. Analisis framing adalah
analisis yang dipakai untuk melihat bagaimana media mengkonstruksikan realitas.
Analisis framing juga dipakai untuk melihat bagaimana peristiwa dipahami dan
dibingkai oleh media. Ada dua esensi
utama dari framing. Pertama, bagaimana peristiwa dimaknai. Ini berhubngan
dengan bagian mana yang diliput dan bagian mana yang tidak diliput. Kedua, bagaimana fakta itu ditulis. Aspek ini
berhubungan dengan pemakaian kata, kalimat, dan gambar untuk mendukung gagasan.
Sebagai sebuah metode analisis teks,
analisis framing mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan
analisis isi kuantitatif. Dalam analisis kuantitatif, yang ditekankan adalah
isi (content) dari suatu pesan/teks
komunikasi. Sementara dalam analisis framing, yang menjadi pusat perhatian
adalah pembentukan pesan dari teks. Framing, terutama, melihat bagaimana
pesan/peristiwa dikonstruksi oleh media. Bagaimana wartawan mengkonstruksi
peristiwa dan menyajikannya kepada khalayak pembaca.
Analisis framing sebagai suatu metode
analisis teks banyak mendapat pengaruh dari teori sosiologi dan psikologi. Dari
sosiologi terutama sumbangan pemikiran Peter Berger dan Erving Goffman,
sedangkan teori psikologi terutama yang berhubungan dengan skema dan kognisi.
4.1.1
Efek
Framing
Salah satu efek framing yang paling
mendasar adalah realitas sosial yang kompleks, penuh dimensi dan tidak
beraturan disajikan dalam berita sebagai sesuatu yang sederhana, beraturan, dan
memenuhi logika tertentu. Framing menyediakan alat bagaimana peristiwa dibentuk
dan dikemas dalam kategori yang dikenal khalayak. Karena itu, framing menolong
khalayak untuk memproses informasi ke dalam kategori yang dikenal, kata-kata
kunci dan citra tertentu. Khalayak bukan disediakan informasi yang rumit,
melainkan informasi yang tinggal ambil, kontekstual, berarti bagi dirinya dan
dikenal dalam benak mereka. Teori framing menunjukkan bagaimana jurnalis
membuat simplikasi, prioritas, struktur tertentu dari peristiwa. Karenanya,
framing menyediakan kunci bagaimana peristiwa dipahami oleh media dan
ditafsirkan ke dalam bentuk berita. Karena media melihat peristiwa dari
kacamata tertentu maka realitas setelah dilihat oleh khalayak adalah realitas
yang sudah terbentuk oleh bingkai media. Di sini media cenderung melihat
realitas sebagai sesuatu yang sederhana. Deretan contoh dapat diurutkan.
Liputan mengenai terorisme yang kompleks, disederhanakan sebagai tindakan tidak
bermoral. Konflik etnis, rasial, diberitakan semata sebagai konflik atau
kerusuhan.
|
Mendefinisikan
realitas tertentu
|
Melupakan
definisi lain atas realitas
|
|
Penonjolan
aspek tertentu
|
Pengaburan
aspek lain
|
|
Penyajian
sisi tertentu
|
Penghilangan
sisi lain
|
|
Pemilihan
fakta tertentu
|
Pengabaian
fakta lain
|
4.2
Globalisasi
- Imperatif Media
“Globalisasi, memiliki empat imperatif
yang mendorong perkembangannya, yakni : Imperatif sumber daya, imperatif
teknologi informasi, imperatif ekologis, dan imperatif pasar.”(Benjamin R.
Barber, “Jihad Melawan McWorld”).
Tulisan ini akan fokus pada imperatif
teknologi informasi, dengan instrumen utamanya media massa. Serta dampak dari
yang ditimbulkannya tersebut, dalam bahasa komunikasi lazim disebut “budaya
massa”. Sebuah situasi sosio-kultural dimana perilaku dan cara berpikir
publik/rakyat yang pada faktanya diperanguhi –atau bahkan dibentuk- oleh media
massa. Sedikit-banyaknya.
Globalisasi, dalam analogi sederhana
bagai “pelipatan-pelipatan dunia menjadi sebuah kampung kecil” merupakan imbas
tak terelakkan dari revolusi teknologi informasi. Sebuah perubahan radikal
penyebaran pesan komunikasi dari sekedar lisan dan tulisan, ke dalam bentuk
audio, visual, hingga audio visual. Dari komunikasi satu arah menjadi
interaktif. Peningkatan kapasitas kecepatan dan kemampuan pesan komunikasi
menembus ruang dan waktu, serta kontinyu dan dinamis.
Teori lain yang turut mendukung bahwa
globalisasi tidak terelakkan, adalah revolusi transportasi. Dimana manusia
mampu menembus satu ruang ke ruang lan dalam waktu sangat singkat. Misal
kemajuan pesawat terbang.
Definisi paling pas menurut fakta dunia
hari ini tentang globalisasi, ternyata adalah sebuah proses penyeragaman dunia
dengan standar tertentu-westernisasi (Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan).
Menyerang dan melibas semua batas dan ruang, seperti agama, nasionalitas, ras,
dan sejarah lokal. Menciptakan krisis eksistensial di setiap ranah
budaya-sosial diseluruh dunia.
4.3
Rekayasa
Budaya Massa – Hegemoni
Jean Baudrillard menyatakan bahwa
realitas masyarakat sekarang tidak direfleksikan oleh TV dan koran, namun
justru masyarakat itu adalah refleksi-refleksi dari citra-citra yang disajikan
oleh media. Artinya, realitas dalam media bukanlah gambaran dari masyarakat
itu. Citra-citra dalam medialah yang membentuk realitas dalam masyarakat
tersebut.
Simpelnya, media massa membentuk
realitas kehidupan masyarakat sesuai dengan arah yang sejalan dengan ideologi
kapitalis neo-lib. Bukan realitas apa adanya atau bahkan arah yang diinginkan
oleh rakyat- kesejahteraan.
Rekayasa informasi global inilah yang
faktanya sekarang terus berlangsung, melalui media-media massa global.
Masyarakat global diberi ketidakberdayaan (disempowerment) dalam berbagai hal
menghadapi hegemoni kepentingan-kepentingan barat -terutama AS- dapat terwujud.
Dalam bidang ekonomi, AS berhasil mengglobalkan berbagai produk industrinya,
sehingga menjadi “selera dunia” (global taste). Dalam bentuk food (makanan),
fun (hiburan), fashion (pakaian), dan thought (pemikiran).( Adian Husaini, “Wajah
Peradaban Barat”)
Intinya, media massa telah membentuk
budaya global dalam bentuk budaya massa yanag menguntungkan kapitalis neo-lib.
Membentuk logika masyarakat menjadi materialis dan cenderung kemaruk ketika
berhadapan dengan iklan-iklan barat. Bahasa populernya Dunia McWorld, yang
sering dilambangkan dengan McDonald, MTv, Macintosh. Filter dalam hal ini, menjadi
teramat sulit dilakukan.
Ini membuat korporasi-korporasi sebagai
instrumen pelaku sistem neo-liberalisme mendapat keuntungan ekonomis berlipat
ganda. Terlihat imperatif media berkorelasi dengan imperatif pasar (ekonomi). Artinya,
media menjadi mitra korporasi dalam mengeruk keuntungan yang berlipat ganda.
Beberapa ahli sepakat, bahwa hukum ekonomi
telah dibalik-mereka menciptakan pasar terlebih dahulu dengan menciptakan
budaya massa yang berwujud konsumerisme, sehingga saat ditawarkan produk-produk
konsumen (publik) akan langsung menyerbu.
Sebab, korporasi-korporasi yang
berparadigma kapitalis neo-liberal ini memfokuskan perhatiannya pada
pertumbuhan ekonomi yang berujung pada produksi massal barang-jasa tanpa
kontrol. Surplus barang tak terelakkan, pasar domestik pun tak bisa
menghabiskan persediaan barang-jasa tersebut.
Paradigma “memasarkan barang” saja
menjadi tidak cukup, mereka mulai berpikir “menciptakan pasar”
dibelahan-belahan negara lain. Ini berkorelasi dengan sifat kapitalisme itu
sendiri yang cuma bisa hidup di alam internasional. Disinilah letak peranan
media massa, menjadi “pekerja pra-produksi”, menciptakan pasar dengan opini,
informasi-informasi selektif, dan iklan. Hingga budaya massa sebagai konsumen telah
siap sedia untuk menghabiskan uangnya demi menjawab tantangan “modernisme life
style” tersebut.
Sebenarnya tak hanya barang dan jasa
yang dipasarkan, tapi juga gagasan/ide. Kita bisa lihat, media massa penuh
dengan mem-bombastis-kan kata-kata serupa demokrasi, HAM, postmodernisme,
humanisme, pluralisme, liberalisme, hedonisme, dll. Baik secara ekspilit maupun
emplisit. Dengan dibalut analisis oleh “pakar-pakar” berparadigma neo-lib.
Tentu saja tidak disertai kolom untuk mendiskusikannya secara kritis.
Tentu negara dan korporasi tak hanya
merasa cukup mendapat keuntungan lewat penjualan barang dan jasa. Ide/gagasan
tak kalah penting, sebab titik potensi inilah yang akan membuat rakyat tanpa
sadar berpola pikir dan pola sikap sesuai sistem yang mengangkangi mereka-kapitalis
neo-lib. Hingga kekuasaan ideologi tak hanya dilestarikan oleh negara-korporasi
namun juga oleh publik. Ini yang kita sebut dengan hegemoni.(Nezar Patria &
Andi Arief, Antonio Gramsci, “Negara & Hegemoni”)
4.4
Kretek
Sebagai Warisan Budaya dan Kesejahteraan
Upaya berbagai pihak untuk melawan
produksi rokok Indonesia sejauh ini bertumpu pada tiga argument: mengganggu
kesehatan, fatwa haram, dan kesejahteraan semu. Dua argument pertama, sudah
menjadi polemik dan perdebatan khalayak umum. Tentang kedua perdebatan tersebut
bisa kita lacak dan simak di berbagai media massa. Namun untuk persoalan
kesejahteraan semu, tampaknya belum banyak yang didalami dan dikupas.
Padahal, kalau kita simak, argument di
balik alasan kesejahteraan umum itu hanya berisi klaim dan hitungan umum yang
seakan logis. Atau, kalau pun tidak, merupakan data mati, otak-atik statistik
yang tidak mempertimbangkan aspek lain yang juga penting, yakni manusia. Oleh
karena itu diperlukan suatu penelusuran yang mampu melihat semua itu dengan
lebih jernih dan adil.
Untuk melihat apakah kesejahteraan di
dalam industri rokok itu menciptakan kesejahteraan semu atau tidak, harus
dikemukakan berdasarkan data yang mendasar dan sahih mengenai
parameter-parameter kesejahteraan yang ada. Hal inilah yang merupakan landasan
utama penelusuran ini.
Penelusuran ini menggunakan campuran
antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Sejumlah peneliti langsung datang
ke lapangan untuk mengamati, mencari data, dan menganalisis dari dekat, tak
berjarak, tepat di tengah-tengah masyarakat yang benar-benar hidup dan
menggantungkan diri dari rangkaian mata rantai salah satu industri terbesar dan
asli Indonesia: kretek!
Ya, kita harus menyebutnya demikian: kretek!, karena kretek ternyata bukan sekedar rokok dan memang dalam banyak hal
sama sekali tak sama dengan berbagai jenis rokok lainnya. Mark Hanusz, penulis
buku Kretek: The Cultural and Heritage of Indonesia’s Clove Cigaretes (Jakarta:
Equinox, 2000), menyebutnya gamblang: “….kretek
bukan rokok, bukan pula cerutu!” Meski sama-sama berbahan baku tembakau, namun kretek juga mengandung bahan baku lain
yang tak dimiliki oleh rokok jenis lain manapun. Itulah cengkeh, satu tanaman
asli negeri kepulauan bernama nusantara ini. Bahkan, penamaan kretek itu sendiri sebenarnya adalah
karena jenis rokok temuan khas Indonesia ini menimbulkan bunyi ‘kretek-kretek’ ketika dihisap, yakni
bunyi dari potongan-potongan biji cengkeh yang tergulung dan tercampur bersama
rajangan kering daun tembakau di dalamnya.
4.5
Kretek
Dalam Perekonomian Indonesia
Tak ada yang meragukan, Industri Hasil
Tembakau (IHT) di Indonesia menempati kedudukan penting dan menonjol, baik
dalam publisitas di ruang publik maupun dalam hal sumbangannya terhadap
keuangan negara. Selama satu dasawarsa terakhir, nama para pengusaha industri
rokok sebagai pembeli terbesar produksi perkebunan tembakau hampir tidak pernah
absen dari peringkat puncak daftar pembayar pajak terbesar di Indonesia.
Pada saat bersamaan, cukai rokok
menunjukkan bahwa sub sektor industri ini tidak pernah kalah bersinar dibanding
sumber-sumber lain penerimaan negara dari pajak.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,
Departemen Keuangan Republik Indonesia, melaporkan penerimaan negara dari cukai
tembakau mencapai Rp. 57,0 triliun pada tahun 2008. Jumlah tersebut jauh lebih
tinggi dibanding catatan tahun sebelumnya 2007 yang hanya Rp. 43,54 triliun dan
Rp. 42,03 triliun pada tahun sebelumnya lagi 2006. Meskipun menetapkan sasaran
pencapaian lebih rendah pada Anggaran Pendapatan & Belanja Negara (APBN) tahun
2010, sebesar Rp. 55,9 triliun, pemerintah tetap menunjukan harapan yang tinggi
terhadap penerimaan dari cukai rokok atau tembakau.
4.5.1
Penyumbang
Cukai Terbesar
Di antara sumber-sumber penerimaan lain
dari sektor pajak, cukai tembakau terlihat sangat dominan. Laporan Lembaga
Demografi Universitas Indonesia (LD-UI) menyebutkan 88% penerimaan cukai
tembakau dalam APBN berasal dari enam perusahaan rokok terbesar di Indonesia
yang semuanya ada di Jawa (Barber et.al., 2008). Pada tahun 2007, Direktorat
Jenderal Bea & Cukai mencatat porsi terbesar (86,38%) penerimaan pemerintah
dari cukai rokok berasal dari delapan perusahaan produsen rokok kelas I dengan
volume produksi mencapai 173 miliar batang.
Penerimaan negara dari cukai tembakau
yang besar itu, tidak lepas dari tingginya konsumsi tembakau di Indonesia yang
berada di peringkat kelima negara-negara konsumen rokok terbesar dunia setelah
Cina, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang (Departemen Perindustrian, 2009). Jika
dipisah menurut asalnya, bagian terbesar cukai tembakau dibayar oleh konsumen
rokok kretek yang menyerap lebih dari
90% produksi rokok nasional.
4.5.2
Penampung
Ajeg Tenaga Kerja (Petani dan Buruh Industri Tembakau)
Harga jual yang menguntungkan, ditambah
produktivitas lahan yang makin tinggi, menandakan terbukanya ruang perbaikan
kesejahteraan dan keuntungan dari pertanian tembakau. Kedua faktor itu mengikat
tenaga kerja pertanian tembakau dari tarikan kesempatan kerja di bidang lain.
Meskipun, secara internasional, luas lahan tembakau makin sempit dibanding
total luas lahan pertanian tanaman semusim sejak 1990an, kecenderungan
penurunannya di Indonesia tidak terlampau besar. Pada beberapa tahun sejak
2001, proporsinya justru sempat naik. Pada saat yang sama mobilitas tenaga
kerja dari sektor pertanian tembakau ke pertanian lain, maupun ke industri dan
jasa lainnya, terjadi sangat lambat. Direktorat Bina Produksi Perkebunan (2003)
melaporkan terjadinya lonjakan tajam jumlah pekerja pertanian tembakau pada
tahun 2001. Pada saat yang sama, jumlah tenaga kerja sektor pertanian justru
turun. Artinya, lapangan pekerjaan pertanian tembakau memiliki daya tarik yang
lebih kuat dibanding lapangan pekerjaan di sektor lainnya, termasuk di sektor
pertanian sendiri.
4.6
Konspirasi
Global Penghancuran Kretek
Pendapatan negara dari cukai kretek
selalu naik setiap tahunnya. Ironisnya, kampanye untuk memusuhi kretek kian
gencar. Kemudian, berbagai peraturan diberlakukan agar ruang bagi penikmat
kretek semakin sempit. Pertanyaan yang muncul, adakah agenda tersembunyi dari
dinamika ini?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku
ini mencoba membahas wilayah-wilayah yang memiliki kaitan dengan kretek. Dari
situ tampak bagaimana letak strategis kretek terhadap budaya maupun ekonomi
Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.
Dari hasil pengamatan, ada sinyalemen
kuat yang menunjukkan adanya usaha untuk melemahkan industri tembakau dan
kretek Indonesia. Pertama-tama hal itu terlihat dari sejarah industri beberapa
komoditi, seperti minyak kelapa, gula, garam, hingga jamu.
Awalnya komoditi-komoditi tersebut
memiliki makna ekonomis. Namun, karena kampanye global yang dilakukan oleh
negara-negara maju, perlahan-lahan industri tersebut meredup. Menurunnya
pendapatan negara, serta nasib pilu petani yang menjadi ujung tombak penghasil
bahan baku, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan.
Salah satu contoh yang disampaikan lewat
buku ini adalah kampanye untuk memperburuk citra minyak kelapa di Amerika
Serikat. Hal ini terus menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya tumbuh keyakinan
bahwa minyak kelapa asal Indonesia berbahaya bagi kesehatan.
Hal yang sama terjadi juga dengan
industri kretek. Lembaga dunia yang paling gencar mengampanyekan anti tembakau
adalah WHO (World Health Organization). Namun belakangan diketahui, kampanye
tersebut didukung oleh perusahaan yang memroduksi obat-obatan penghenti kebiasaan
merokok (hal. 109).
Sinyalemen berikutnya adalah, hadirnya
regulasi anti-tembakau seperti Udang-undang Kontrol Tembakau di Amerika
Serikat, yang melarang penjualan rokok yang mengandung zat adiktif seperti
cengkeh. Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh produksi dan peredaran rokok
mentol yang diproduksi di Amerika Serikat.
Untuk membatasi impor tembakau ke dalam
negeri, Amerika Serikat juga membebani bea masuk yang sangat tinggi bagi produk
tembakau. Bahkan kretek pun dilarang masuk, termasuk dari Indonesia. Sementara
itu, perusahaan rokok terbesar di negeri itu, melebarkan sayapnya di luar
negeri dengan mencaplok perusahaan rokok di puluhan negara. Ini adalah cara
untuk melindungi industri tembakau dalam negeri Amerika Serikat.
Lebih jauh, kelompok-kelompok yang
didanai korporasi multinasional ikut membatasi petani untuk menanam tembakau.
Alhasil, Indonesia tidak kuasa membatasi impor tembakau. Sekali lagi, ini
memperlihatkan bahwa negara-negara maju memang memiliki kepentingan dengan
industri tembakau.
Muaranya, industri kretek dalam negeri
mengalami ancaman. Ini tidak hanya akan memengaruhi pendapatan dari cukai
rokok, melainkan juga meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, industri
kretek adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja.
Jika hal ini tidak ditanggapi secara
serius, industri kretek nasional yang pernah mengalami masa keemasan, akan
bernasib sama dengan industri lain yang kini hanya menyisakan jejak kecil. Itu
sebabnya lembaga dan otoritas terkait perlu melakukan sesuatu untuk mencegahnya
4.7
Memasuki
Wilayah Kesehatan Publik
Mengingat bahwa pada tahun 1980-an
bdan-badan kesehatan masyarakat sudah bersiaga penuh untuk melancarkan serangan
maut terhadap perilaku merokok sebagai isu kesehatan publik,
perusahaan-perusahaan farmasi melihat munculnya peluang emas untuk menawarkan
produk-produk nikotin mereka sendiri sebagai alat bantu berhenti merokok. Jelas
tidak ada yang lebih menguntungkan dibandingkan kenyataan bahwa lembaga-lembaga
terhormat seperti Surgeon General, AMA, American Cancer Society, American Lung
Association, American Heart Association, Centers for Disease Control, National
Cancer Institute, dan badan-badan pemerintah AS lainnya (dan kemudian juga WHO)
sungguh-sungguh membantu memasarkan obat-obatan berhenti merokok sebagai bagian
dari program pemberantasan merokok.
Pada awal tahun 1990-an
perusahaan-perusahaan farmasi mulai membangun kemitraan dengan lembaga-lembaga
kesehatan publik. Pada tahun 1991, Robert Wood Johnson Foundation (RWJF),
pemegang saham tunggal terbesar Johnson & Johnson, memulai program hibah
anti-tembakau, mendanai program-program anti-tembakau dan riset kecanduan
nikotin. Pada tahun 1995, seorang wakil RWJF duduk di komite Antar lembaga AS untuk
Rokok dan Kesehatan, membantu mengoordinasikan program pengendalian tembakau
nasional. Pada tahun 1996, Centers for Disease Control memasukkan RWJF sebagai
mitra untuk pengendalian tembakau. Pada tahun 1996, RWJF, National Cancer
Institute dan National Institute on Drug Abuse mengumumkan bahwa “Pusat
Penelitian Penggunaan Tembakau Transdisipliner” yang didanai dan dirancang
bersama-sama telah didirikan di tujuh lembaga akademis.
Perusahaan-perusahaan farmasi besar
lainnya pun semakin banyak mendanai pengendalian tembakau di AS dan
negara-negara lain. Pada Januari 1999, Gro Harlem Brundtland mengumumkan bahwa
Glaxo Wellcome, Novartis dan Pharmacia telah bermitra dengan WHO dalam program
anti-tembakau.
Badan-badan kesehatan publik global kini
berjoget mengikuti gendang yang ditabuh perusahaan-perusahaan farmasi:
1. Menaikkan
pajak tembakau sehingga harga produk-produk farmasi lebih kompetitif
dibandingkan produk tembakau
2. Melekatkan
cap jahat terhadap industri tembakau dan melarang iklan produk-produk mereka
3. Memberlakukan
larangan merokok untuk memaksa para perokok agar berusaha berhenti merokok
dengan menggunakan produk-produk farmasi atau memakai produk-produk pengganti
nikotin sebagai penyulih di saat mereka tidak dapat merokok
4. Mempromosikan
berhenti merokok dan penanganan kecanduan nikotin
5. Mempromosikan
rangkaian penanganan lengkap bagi kecanduan nikotin melalui asuransi kesehatan
negeri maupun swasta
Seluruh siasat itu jelas mendongkrak
laba perusahaan-perusahaan farmasi. Dan itulah sebabnya mereka mampu mendanai
pesta raya besar-besaran bebas pajak untuk badan-badan pengendalian tembakau
global di Chicago pada Agustus 2000, yakni Konferensi Dunia tentang Tembakau
dan Kesehatan ke-11. Perusahaan-perusahaan farmasi merasa bahwa mereka sudah
berada di jalur yang benar untuk memenangkan perang nikotin.
4.8
Industri
Tembakau sebagai Kambing Hitam
Selama tahun 1990-an, industri farmasi
sendiri menghadapi sejumlah masalah kehumasan yang serius. Di antaranya, mereka
dikecam karena teknik pemasaran mereka yang sifatnya memaksa dan karena
mempertahankan harga tinggi yang menipu untuk produk-produknya. Bergesernya
perhatian masyarakat (dan para penegak hukum yang mewaspadai pelanggaran) yang
lantas tertuju pada dosa-dosa industri tembakau membantu mengalihkan perhatian
dari dosa-dosa perusahaan farmasi.
Karena itu tidak mengejutkan jika Nancy
Kaufman dari RWJF menilai hibah yayasan itu kepada para ekonom sebagai
“investasi yang menguntungkan”, yakni untuk “mengembangkan formula penghitungan
biaya merokok bagi program bantuan kesehatan negara, sehingga memungkinkan
jaksa agung menggugat industri tembakau.” (wawancara Philippe Boucher,
“Rendez-vous with…..Nancy J. Kaufman,” 16 Februari 2001).
BAB IV
PENYAJIAN & ANALISIS DATA
5.1 Analisis Framing
Analysis Framing antara Portal
Berita KOMPAS.com dan detiknews.com
|
TGL
|
PORTAL
BERITA
|
JUDUL
|
EKSEMPLAR
|
KUTIPAN
NARASUMBER
|
|
Kamis, 31 Mei 2012 | 16:52 WIB.
|
KOMPAS.com
|
Komunitas Kretek: Anti Tembakau Agenda Asing.
|
Memperingati Hari Tanpa Tembakau, puluhan aktivis Komunitas Kretek
wilayah Surabaya menggelar aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan
Gubernur Suryo Surabaya, Kamis (31/5/2012) siang. Dalam aksi itu, mereka
menuding kampanye anti tembakau yang digalakkan pemerintah Indonesia selama
ini adalah agenda asing yang terselubung..
|
Menurut koordinator aksi, Rahman, aksi yang digelar ini ditujukan
untuk mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terkecoh dengan kampanye -
kampanye manis pemerintah yang seolah - olah peduli terhadap isu kesehatan.
''Jika dikupas akan tampak rencana memuluskan perusahaan-perusahaan rokok
multinasional dan farmasi dalam menguasai pasar Indonesia,'’.
|
|
Kamis, 31 Mei 2012 | 14.25 WIB.
|
detiknews.com
|
Massa Pro & Anti Rokok di
Yogya Peringati Hari Anti Tembakau Sedunia.
|
Hari tanpa tembakau sedunia yang diperingati hari ini, dijadikan
ajang mencari perhatian kelompok pro dan anti rokok. Kedua kelompok ini
menggelar aksi secara bersamaan. Kelompok anti rokok terdiri dari pelajar,
guru, PNS dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Mereka menggelar aksi di
beberapa tempat seperti halaman DPRD DIY, Balai kota Yogyakarta, Tugu Yogya
dan titik nol kilometer di simpang empat Kantor Pos Besar Yogyakarta.
Sementara, massa pro rokok menggelar aksi long march dari Taman Parkir Abu
Bakar Ali melewati Malioboro dan berakhir di titik nol kilometer.
|
Mereka menyerukan adanya perlindungan bagi para perokok pasif. Selain
itu, mereka juga menyerukan agar semua pihak mengawasi para perokok muda
dengan usia 15-24 tahun. "Kami prihatin jumlah perokok terus bertambah
dan belum berkurang dan masih ada sekitar 48,3 persen keluarga di Yogya yang
anggota keluarganya merokok,". Sementara itu, massa pendukung rokok
membawa dua replika batang rokok berukuran jumbo di kawasan Malioboro. Mereka
mengingatkan pelarangan rokok sebagai bagian dari perang global industri
kapitalis. "Kita harus mewaspadai adanya pembatasan merokok dan industri
rokok oleh pihak asing. Ini bagian dari perang bisnis global. Rokok sebagai
produk Indonesia tidak boleh dikuasai asing. Rokok kretek itu budaya asli
Indonesia," kata Ary, salah satupeserta aksi.
|
|
Kamis, 31 Mei 2012 | 13:50 WIB.
|
KOMPAS.com
|
RS Fatmawati Gelar Kampanye
Anti Rokok
|
Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada hari ini
(31/5), RS. Fatmawati menggelar kampanye simpatik untuk menyampaikan pesan-pesan
bahaya rokok dan betapa segarnya udara tanpa asap rokok. Kampanye yang
digelar kepada pasien itu dipimpin langsung oleh Direktur Medik dan
Keperawatan RS Fatmawati dr. Lia G. Partakusuma.
|
"Tidak cuma acara kampanye ini saja. Nanti kami akan adakan
penyuluhan terhadap karyawan, pasien, dan pengunjung," kata dr. Lia
kepada wartawan saat kegiatan berlangsung.
|
|
Kamis, 31 Mei 2012 | 18.36 WIB.
|
detiknews.com
|
Peringati Hari Tanpa Tembakau, Rokok Ditukar Bunga Mawar
|
Peringatan hari tanpa tembakau se-dunia di Bali diperingati dengan
berbagai aksi simpatik, seperti yang dilakukan relawan anti tembakau yang
melakukan kunjungan mendadak ke kantor - kantor pemerintahan. Mereka menukar
rokok dengan bunga mawar. Salah satu yang mereka datangi adalah Kantor Gubernur
Bali, Jl Basuki Rahmat Nitimandala Denpasar. Di sana para relawan memergoki
sejumlah pegawai yang masih merokok, Kamis (31/5/2012). Kabag Perencanaan dan Anggaran Ditjen Dikti
Kemdikbud (dulu Kemendiknas).
|
"Relawan kami sengaja menukarkan bunga mawar dengan rokok yang
dimiliki para pegawai yang sedang merokok," kata Kepala Seksi Pencegahan
Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ayu Rai Andayani, kepada wartawan
Kamis (31/5/2012).
|
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan
yang didapat dari Analisis Framing antara Portal Berita KOMPAS.com dan detiknews.com
menurut kelompok kami adalah sebagai berikut:
1. Portal
berita detiknews.com lebih terkesan
“angin-anginan” (hit and run) dalam pemberitaan mengenai aksi yang menyangkut
tentang Hari Anti Tembakau Sedunia, selain itu juga kurang mengutamakan
etika-etika dalam menyangkut dengan ranah kejurnalistikan karena detiknews.com
tidak sebegitu “cover boothside” atau kurang berimbang dalam pemberitaan
tentang peringatan aksi hari anti tembakau. Portal berita detiknews.com hanya
menampilkan pemberitaan dari kalangan-kalangan yang pro dengan adanya
peringatan hari anti tembakau sedunia, tanpa menampilkan berita yang mengenai
pihak-pihak yang kontra dengan peringatan tersebut, misal: komunitas kretek,
masyarakat yang berprofesi sebagai buruh pabrik rokok, dan petani-petani
tembakau yang ada di seluruh nusantara.
2. Portal
berita KOMPAS.com lebih obyektif,
memuat pemberitaan tentang kedua belah pihak antara yang pro dan yang kontra
tentang adanya agenda asing dibalik peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia. Dari
pihak yang pro terhadap peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia adalah
orang-orang yang bergelut di dunia farmasi. Dari pihak yang kontra terhadap
peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia antara lain para petani tembakau, buruk pabrik
rokok tembakau, serta komunitas kretek.
DAFTAR PUSTAKA
Eriyanto. 2002. Analisis Framing: konstruksi, ideologi, dan politik. Yogyakarta
: LKiS
Hamilton, W. Nikotin War; Perang Nikotin Dan Para Pedagang Obat, penerjemah,
Sigit Djatmiko. Yogyakarta : INSISTPress
& Spasimedia, 2010.
Topatimasang, R., EA, P., Ary, H. KRETEK Kajian Ekonomi & Budaya 4 Kota. Yogyakarta
: Indonesia Berdikari & Spasimedia, 2010.
Ary, H., Harlan, M., DM, A. 2011. Membunuh Indonesia, konspirasi global
Penghancuran Kretek. Jakarta Selatan : Katakata.
Barber, Benjamin R. Jihad vs McWorld. Surabaya : Pustaka Promethea, 2002
Husaini, Adian. Wajah Peradaban Barat : dari hegemoni kristen ke dominasi
sekuler-liberal. Jakarta : Gema Insani Press, 2005.
Patria, N., Arief, A., Prasetyo, E. Antonio Gramsci : negara & hegemoni.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999.