Jumat, 06 Juli 2012

Tentang Adanya Agenda Asing Dibalik Peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia


Analysis Framing antara Portal Berita
KOMPAS.com dan detiknews.com
Tentang Adanya Agenda Asing
Dibalik Peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia

stikosa-color.jpg

Nama Anggota Kelompok:
Rizky Endarsyah                  (……………)
Asep Kurniawan                   (10.31.3624)
Rizal Roshady                       (……………)
Edwin Suprayogi                  (……………)
Reza Afrizal                           (……………)

Mata Kuliah:
Metode Penelitian Komunikasi
STIKOSA-AWS
2012

BAB I
ABSTRAKSI

Tidak ada yang meragukan industri kretek Indonesia telah memberikan pemasukan dana yang luar biasa besar bagi negeri ini, ikut serta dalam menggerakkan roda perekonomian nasional dan daerah, menyediakan lapangan kerja bagi petani dan buruh, dan juga penghasilan bagi jutaan orang lainnya yang terkait langsung maupun tak langsung dengannya. Industri Hasil Tembakau (IHT) di Indonesia menempati kedudukan penting dan menonjol, baik dalam publisitas di ruang publik maupun dalam hal sumbangannya terhadap keuangan negara.
Selama satu dasawarsa terakhir, nama – nama para pengusaha rokok (sebagai pembeli terbesar produksi perkebunan tembakau) hampir tidak pernah absen dari peringkat puncak daftar pembayar pajak terbesar di Indonesia. Pada saat yang bersamaan, cukai rokok menunjukkan bahwa sub-sektor industri ini tidak pernah kalah bersinar dibanding sumber – sumber lain penerimaan negara dari pajak.
Upaya berbagai pihak untuk melawan produksi rokok di Indonesia sejauh ini bertumpu pada tiga argument: menggangu kesehatan, fatwa haram, dan kesejahteraan semu. Dua argumen pertama, sudah menjadi polemik dan perdebatan di khalayak umum. Tentang kedua perdebatan tersebut bisa kita lacak dan kita simak di berbagai media massa. Namun persoalan ‘kesejahteraan semu’, tampaknya belum banyak yang didalami dan dikupas. Padahal, kalau kita simak, argumen dibalik alasan ‘kesejahteraan semu’ itu hanya berisi klaim dan hitungan umum yang seakan logis. Atau kalau pun tidak, merupakan data mati, otak – atik statistik yang tidak mempertimbangkan aspek lain yang juga lebih penting, yaitu manusia.
Oleh karena itu dalam kelompok kami akan melakukan suatu penelusuran yang mampu melihat semua itu dengan lebih jernih dan adil. Untuk melihat apakah kesejahteraan di dalam industri rokok itu menciptakan kesejahteraan semu atau tidak, harus dikemukakan berdasarkan data mendasar dan sahih mengenai parameter – parameter kesejahteraan yang ada.

BAB II
LATAR BELAKANG

2.1   Latar Belakang Masalah
Pendapatan negara dari cukai kretek selalu naik setiap tahunnya. Ironisnya, kampanye untuk memusuhi kretek kian gencar. Kemudian, berbagai peraturan diberlakukan agar ruang bagi penikmat kretek semakin sempit. Pertanyaan yang muncul, adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mencoba membahas wilayah - wilayah yang memiliki kaitan dengan kretek. Dari situ tampak bagaimana letak strategis kretek terhadap budaya maupun ekonomi Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.
Ada sinyalemen kuat yang menunjukkan adanya usaha untuk melemahkan industri tembakau dan kretek Indonesia. Pertama - tama hal itu terlihat dari sejarah industri beberapa komoditi, seperti minyak kelapa, gula, garam, hingga jamu. Awalnya komoditi - komoditi tersebut memiliki makna ekonomis. Namun, karena kampanye global yang dilakukan oleh negara - negara maju, perlahan - lahan industri tersebut meredup. Menurunnya pendapatan negara, serta nasib pilu petani yang menjadi ujung tombak penghasil bahan baku, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan.
Salah satu contohnya adalah kampanye untuk memperburuk citra minyak kelapa di Amerika Serikat. Hal ini terus menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya tumbuh keyakinan bahwa minyak kelapa asal Indonesia berbahaya bagi kesehatan. Hal yang sama terjadi juga dengan industri kretek. Lembaga dunia yang paling gencar mengampanyekan anti tembakau adalah WHO (World Health Organization). Namun belakangan diketahui, kampanye tersebut didukung oleh perusahaan yang memproduksi obat - obatan penghenti kebiasaan merokok. Sinyalemen berikutnya adalah, hadirnya regulasi anti - tembakau seperti Undang - Undang Kontrol Tembakau di Amerika Serikat, yang melarang penjualan rokok yang mengandung zat adiktif seperti cengkeh. Selain itu, ada sebuah kutipan di twitter yang menyebutkan, “Ya, YLKI adalah salah satu antek zionis Bloomberg yg menerima duit 5,5 miliar utk agenda bunuh tembakau. #tolakRPPtembakau”. YLKI adalah Yayasan Lembaga Kesehatan Indonesia.
Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh produksi dan peredaran rokok mentol yang diproduksi di Amerika Serikat. Untuk membatasi impor tembakau ke dalam negeri, Amerika Serikat juga membebani bea masuk yang sangat tinggi bagi produk tembakau.
Bahkan kretek pun dilarang masuk, termasuk dari Indonesia. Sementara itu, perusahaan rokok terbesar di negeri itu, melebarkan sayapnya di luar negeri dengan mencaplok perusahaan rokok di puluhan negara. Ini adalah cara untuk melindungi industri tembakau dalam negeri Amerika Serikat. Muaranya, industri kretek dalam negeri mengalami ancaman. Ini tidak hanya akan memengaruhi pendapatan dari cukai rokok, melainkan juga meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, industri kretek adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja.
Jika hal ini tidak ditanggapi secara serius, industri kretek nasional yang pernah mengalami masa keemasan, akan bernasib sama dengan industri lain yang kini hanya menyisakan jejak kecil. Itu sebabnya lembaga dan otoritas terkait perlu melakukan sesuatu untuk mencegahnya.

2.2   Rumusan Masalah
·         Bagaimana perspektif antara portal berita KOMPAS.com dan detiknews.com dalam konteks pemberitaan tentang peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia?


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

4.1       Analisis Framing
Pada dasarnya framing adalah metode untuk melihat cara bercerita (story telling) media atas peristiwa. Cara bercerita itu tergambar pada “cara melihat” terhadap realitas yang dijadikan berita. “Cara melihat” ini berpengaruh pada hasil akhir dari konstruksi realitas. Analisis framing adalah analisis yang dipakai untuk melihat bagaimana media mengkonstruksikan realitas. Analisis framing juga dipakai untuk melihat bagaimana peristiwa dipahami dan dibingkai oleh media. Ada dua  esensi utama dari framing. Pertama, bagaimana peristiwa dimaknai. Ini berhubngan dengan bagian mana yang diliput dan bagian mana yang tidak diliput. Kedua,  bagaimana fakta itu ditulis. Aspek ini berhubungan dengan pemakaian kata, kalimat, dan gambar untuk mendukung gagasan.
Sebagai sebuah metode analisis teks, analisis framing mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan analisis isi kuantitatif. Dalam analisis kuantitatif, yang ditekankan adalah isi (content) dari suatu pesan/teks komunikasi. Sementara dalam analisis framing, yang menjadi pusat perhatian adalah pembentukan pesan dari teks. Framing, terutama, melihat bagaimana pesan/peristiwa dikonstruksi oleh media. Bagaimana wartawan mengkonstruksi peristiwa dan menyajikannya kepada khalayak pembaca.
Analisis framing sebagai suatu metode analisis teks banyak mendapat pengaruh dari teori sosiologi dan psikologi. Dari sosiologi terutama sumbangan pemikiran Peter Berger dan Erving Goffman, sedangkan teori psikologi terutama yang berhubungan dengan skema dan kognisi.
4.1.1        Efek Framing
Salah satu efek framing yang paling mendasar adalah realitas sosial yang kompleks, penuh dimensi dan tidak beraturan disajikan dalam berita sebagai sesuatu yang sederhana, beraturan, dan memenuhi logika tertentu. Framing menyediakan alat bagaimana peristiwa dibentuk dan dikemas dalam kategori yang dikenal khalayak. Karena itu, framing menolong khalayak untuk memproses informasi ke dalam kategori yang dikenal, kata-kata kunci dan citra tertentu. Khalayak bukan disediakan informasi yang rumit, melainkan informasi yang tinggal ambil, kontekstual, berarti bagi dirinya dan dikenal dalam benak mereka. Teori framing menunjukkan bagaimana jurnalis membuat simplikasi, prioritas, struktur tertentu dari peristiwa. Karenanya, framing menyediakan kunci bagaimana peristiwa dipahami oleh media dan ditafsirkan ke dalam bentuk berita. Karena media melihat peristiwa dari kacamata tertentu maka realitas setelah dilihat oleh khalayak adalah realitas yang sudah terbentuk oleh bingkai media. Di sini media cenderung melihat realitas sebagai sesuatu yang sederhana. Deretan contoh dapat diurutkan. Liputan mengenai terorisme yang kompleks, disederhanakan sebagai tindakan tidak bermoral. Konflik etnis, rasial, diberitakan semata sebagai konflik atau kerusuhan.
Mendefinisikan realitas tertentu
Melupakan definisi lain atas realitas
Penonjolan aspek tertentu
Pengaburan aspek lain
Penyajian sisi tertentu
Penghilangan sisi lain
Pemilihan fakta tertentu
Pengabaian fakta lain

4.2       Globalisasi - Imperatif Media
“Globalisasi, memiliki empat imperatif yang mendorong perkembangannya, yakni : Imperatif sumber daya, imperatif teknologi informasi, imperatif ekologis, dan imperatif pasar.”(Benjamin R. Barber, “Jihad Melawan McWorld”).
Tulisan ini akan fokus pada imperatif teknologi informasi, dengan instrumen utamanya media massa. Serta dampak dari yang ditimbulkannya tersebut, dalam bahasa komunikasi lazim disebut “budaya massa”. Sebuah situasi sosio-kultural dimana perilaku dan cara berpikir publik/rakyat yang pada faktanya diperanguhi –atau bahkan dibentuk- oleh media massa. Sedikit-banyaknya.
Globalisasi, dalam analogi sederhana bagai “pelipatan-pelipatan dunia menjadi sebuah kampung kecil” merupakan imbas tak terelakkan dari revolusi teknologi informasi. Sebuah perubahan radikal penyebaran pesan komunikasi dari sekedar lisan dan tulisan, ke dalam bentuk audio, visual, hingga audio visual. Dari komunikasi satu arah menjadi interaktif. Peningkatan kapasitas kecepatan dan kemampuan pesan komunikasi menembus ruang dan waktu, serta kontinyu dan dinamis.
Teori lain yang turut mendukung bahwa globalisasi tidak terelakkan, adalah revolusi transportasi. Dimana manusia mampu menembus satu ruang ke ruang lan dalam waktu sangat singkat. Misal kemajuan pesawat terbang.
Definisi paling pas menurut fakta dunia hari ini tentang globalisasi, ternyata adalah sebuah proses penyeragaman dunia dengan standar tertentu-westernisasi (Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan). Menyerang dan melibas semua batas dan ruang, seperti agama, nasionalitas, ras, dan sejarah lokal. Menciptakan krisis eksistensial di setiap ranah budaya-sosial diseluruh dunia.
4.3       Rekayasa Budaya Massa – Hegemoni
Jean Baudrillard menyatakan bahwa realitas masyarakat sekarang tidak direfleksikan oleh TV dan koran, namun justru masyarakat itu adalah refleksi-refleksi dari citra-citra yang disajikan oleh media. Artinya, realitas dalam media bukanlah gambaran dari masyarakat itu. Citra-citra dalam medialah yang membentuk realitas dalam masyarakat tersebut.
Simpelnya, media massa membentuk realitas kehidupan masyarakat sesuai dengan arah yang sejalan dengan ideologi kapitalis neo-lib. Bukan realitas apa adanya atau bahkan arah yang diinginkan oleh rakyat- kesejahteraan.
Rekayasa informasi global inilah yang faktanya sekarang terus berlangsung, melalui media-media massa global. Masyarakat global diberi ketidakberdayaan (disempowerment) dalam berbagai hal menghadapi hegemoni kepentingan-kepentingan barat -terutama AS- dapat terwujud. Dalam bidang ekonomi, AS berhasil mengglobalkan berbagai produk industrinya, sehingga menjadi “selera dunia” (global taste). Dalam bentuk food (makanan), fun (hiburan), fashion (pakaian), dan thought (pemikiran).( Adian Husaini, “Wajah Peradaban Barat”)
Intinya, media massa telah membentuk budaya global dalam bentuk budaya massa yanag menguntungkan kapitalis neo-lib. Membentuk logika masyarakat menjadi materialis dan cenderung kemaruk ketika berhadapan dengan iklan-iklan barat. Bahasa populernya Dunia McWorld, yang sering dilambangkan dengan McDonald, MTv, Macintosh. Filter dalam hal ini, menjadi teramat sulit dilakukan.
Ini membuat korporasi-korporasi sebagai instrumen pelaku sistem neo-liberalisme mendapat keuntungan ekonomis berlipat ganda. Terlihat imperatif media berkorelasi dengan imperatif pasar (ekonomi). Artinya, media menjadi mitra korporasi dalam mengeruk keuntungan yang berlipat ganda.
Beberapa ahli sepakat, bahwa hukum ekonomi telah dibalik-mereka menciptakan pasar terlebih dahulu dengan menciptakan budaya massa yang berwujud konsumerisme, sehingga saat ditawarkan produk-produk konsumen (publik) akan langsung menyerbu.
Sebab, korporasi-korporasi yang berparadigma kapitalis neo-liberal ini memfokuskan perhatiannya pada pertumbuhan ekonomi yang berujung pada produksi massal barang-jasa tanpa kontrol. Surplus barang tak terelakkan, pasar domestik pun tak bisa menghabiskan persediaan barang-jasa tersebut.
Paradigma “memasarkan barang” saja menjadi tidak cukup, mereka mulai berpikir “menciptakan pasar” dibelahan-belahan negara lain. Ini berkorelasi dengan sifat kapitalisme itu sendiri yang cuma bisa hidup di alam internasional. Disinilah letak peranan media massa, menjadi “pekerja pra-produksi”, menciptakan pasar dengan opini, informasi-informasi selektif, dan iklan. Hingga budaya massa sebagai konsumen telah siap sedia untuk menghabiskan uangnya demi menjawab tantangan “modernisme life style” tersebut.
Sebenarnya tak hanya barang dan jasa yang dipasarkan, tapi juga gagasan/ide. Kita bisa lihat, media massa penuh dengan mem-bombastis-kan kata-kata serupa demokrasi, HAM, postmodernisme, humanisme, pluralisme, liberalisme, hedonisme, dll. Baik secara ekspilit maupun emplisit. Dengan dibalut analisis oleh “pakar-pakar” berparadigma neo-lib. Tentu saja tidak disertai kolom untuk mendiskusikannya secara kritis.
Tentu negara dan korporasi tak hanya merasa cukup mendapat keuntungan lewat penjualan barang dan jasa. Ide/gagasan tak kalah penting, sebab titik potensi inilah yang akan membuat rakyat tanpa sadar berpola pikir dan pola sikap sesuai sistem yang mengangkangi mereka-kapitalis neo-lib. Hingga kekuasaan ideologi tak hanya dilestarikan oleh negara-korporasi namun juga oleh publik. Ini yang kita sebut dengan hegemoni.(Nezar Patria & Andi Arief, Antonio Gramsci, “Negara & Hegemoni”)
4.4       Kretek Sebagai Warisan Budaya dan Kesejahteraan
Upaya berbagai pihak untuk melawan produksi rokok Indonesia sejauh ini bertumpu pada tiga argument: mengganggu kesehatan, fatwa haram, dan kesejahteraan semu. Dua argument pertama, sudah menjadi polemik dan perdebatan khalayak umum. Tentang kedua perdebatan tersebut bisa kita lacak dan simak di berbagai media massa. Namun untuk persoalan kesejahteraan semu, tampaknya belum banyak yang didalami dan dikupas.
Padahal, kalau kita simak, argument di balik alasan kesejahteraan umum itu hanya berisi klaim dan hitungan umum yang seakan logis. Atau, kalau pun tidak, merupakan data mati, otak-atik statistik yang tidak mempertimbangkan aspek lain yang juga penting, yakni manusia. Oleh karena itu diperlukan suatu penelusuran yang mampu melihat semua itu dengan lebih jernih dan adil.
Untuk melihat apakah kesejahteraan di dalam industri rokok itu menciptakan kesejahteraan semu atau tidak, harus dikemukakan berdasarkan data yang mendasar dan sahih mengenai parameter-parameter kesejahteraan yang ada. Hal inilah yang merupakan landasan utama penelusuran ini.
Penelusuran ini menggunakan campuran antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Sejumlah peneliti langsung datang ke lapangan untuk mengamati, mencari data, dan menganalisis dari dekat, tak berjarak, tepat di tengah-tengah masyarakat yang benar-benar hidup dan menggantungkan diri dari rangkaian mata rantai salah satu industri terbesar dan asli Indonesia: kretek!
Ya, kita harus menyebutnya demikian: kretek!, karena kretek ternyata bukan sekedar rokok dan memang dalam banyak hal sama sekali tak sama dengan berbagai jenis rokok lainnya. Mark Hanusz, penulis buku Kretek: The Cultural and Heritage of Indonesia’s Clove Cigaretes (Jakarta: Equinox, 2000), menyebutnya gamblang: “….kretek bukan rokok, bukan pula cerutu!” Meski sama-sama berbahan baku tembakau, namun kretek juga mengandung bahan baku lain yang tak dimiliki oleh rokok jenis lain manapun. Itulah cengkeh, satu tanaman asli negeri kepulauan bernama nusantara ini. Bahkan, penamaan kretek itu sendiri sebenarnya adalah karena jenis rokok temuan khas Indonesia ini menimbulkan bunyi ‘kretek-kretek’ ketika dihisap, yakni bunyi dari potongan-potongan biji cengkeh yang tergulung dan tercampur bersama rajangan kering daun tembakau di dalamnya.
4.5       Kretek Dalam Perekonomian Indonesia
Tak ada yang meragukan, Industri Hasil Tembakau (IHT) di Indonesia menempati kedudukan penting dan menonjol, baik dalam publisitas di ruang publik maupun dalam hal sumbangannya terhadap keuangan negara. Selama satu dasawarsa terakhir, nama para pengusaha industri rokok sebagai pembeli terbesar produksi perkebunan tembakau hampir tidak pernah absen dari peringkat puncak daftar pembayar pajak terbesar di Indonesia.
Pada saat bersamaan, cukai rokok menunjukkan bahwa sub sektor industri ini tidak pernah kalah bersinar dibanding sumber-sumber lain penerimaan negara dari pajak.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Departemen Keuangan Republik Indonesia, melaporkan penerimaan negara dari cukai tembakau mencapai Rp. 57,0 triliun pada tahun 2008. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibanding catatan tahun sebelumnya 2007 yang hanya Rp. 43,54 triliun dan Rp. 42,03 triliun pada tahun sebelumnya lagi 2006. Meskipun menetapkan sasaran pencapaian lebih rendah pada Anggaran Pendapatan & Belanja Negara (APBN) tahun 2010, sebesar Rp. 55,9 triliun, pemerintah tetap menunjukan harapan yang tinggi terhadap penerimaan dari cukai rokok atau tembakau.
4.5.1     Penyumbang Cukai Terbesar
Di antara sumber-sumber penerimaan lain dari sektor pajak, cukai tembakau terlihat sangat dominan. Laporan Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD-UI) menyebutkan 88% penerimaan cukai tembakau dalam APBN berasal dari enam perusahaan rokok terbesar di Indonesia yang semuanya ada di Jawa (Barber et.al., 2008). Pada tahun 2007, Direktorat Jenderal Bea & Cukai mencatat porsi terbesar (86,38%) penerimaan pemerintah dari cukai rokok berasal dari delapan perusahaan produsen rokok kelas I dengan volume produksi mencapai 173 miliar batang.
Penerimaan negara dari cukai tembakau yang besar itu, tidak lepas dari tingginya konsumsi tembakau di Indonesia yang berada di peringkat kelima negara-negara konsumen rokok terbesar dunia setelah Cina, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang (Departemen Perindustrian, 2009). Jika dipisah menurut asalnya, bagian terbesar cukai tembakau dibayar oleh konsumen rokok kretek yang menyerap lebih dari 90% produksi rokok nasional.
4.5.2        Penampung Ajeg Tenaga Kerja (Petani dan Buruh Industri Tembakau)
Harga jual yang menguntungkan, ditambah produktivitas lahan yang makin tinggi, menandakan terbukanya ruang perbaikan kesejahteraan dan keuntungan dari pertanian tembakau. Kedua faktor itu mengikat tenaga kerja pertanian tembakau dari tarikan kesempatan kerja di bidang lain. Meskipun, secara internasional, luas lahan tembakau makin sempit dibanding total luas lahan pertanian tanaman semusim sejak 1990an, kecenderungan penurunannya di Indonesia tidak terlampau besar. Pada beberapa tahun sejak 2001, proporsinya justru sempat naik. Pada saat yang sama mobilitas tenaga kerja dari sektor pertanian tembakau ke pertanian lain, maupun ke industri dan jasa lainnya, terjadi sangat lambat. Direktorat Bina Produksi Perkebunan (2003) melaporkan terjadinya lonjakan tajam jumlah pekerja pertanian tembakau pada tahun 2001. Pada saat yang sama, jumlah tenaga kerja sektor pertanian justru turun. Artinya, lapangan pekerjaan pertanian tembakau memiliki daya tarik yang lebih kuat dibanding lapangan pekerjaan di sektor lainnya, termasuk di sektor pertanian sendiri.

4.6       Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Pendapatan negara dari cukai kretek selalu naik setiap tahunnya. Ironisnya, kampanye untuk memusuhi kretek kian gencar. Kemudian, berbagai peraturan diberlakukan agar ruang bagi penikmat kretek semakin sempit. Pertanyaan yang muncul, adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mencoba membahas wilayah-wilayah yang memiliki kaitan dengan kretek. Dari situ tampak bagaimana letak strategis kretek terhadap budaya maupun ekonomi Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.
Dari hasil pengamatan, ada sinyalemen kuat yang menunjukkan adanya usaha untuk melemahkan industri tembakau dan kretek Indonesia. Pertama-tama hal itu terlihat dari sejarah industri beberapa komoditi, seperti minyak kelapa, gula, garam, hingga jamu.
Awalnya komoditi-komoditi tersebut memiliki makna ekonomis. Namun, karena kampanye global yang dilakukan oleh negara-negara maju, perlahan-lahan industri tersebut meredup. Menurunnya pendapatan negara, serta nasib pilu petani yang menjadi ujung tombak penghasil bahan baku, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan.
Salah satu contoh yang disampaikan lewat buku ini adalah kampanye untuk memperburuk citra minyak kelapa di Amerika Serikat. Hal ini terus menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya tumbuh keyakinan bahwa minyak kelapa asal Indonesia berbahaya bagi kesehatan.
Hal yang sama terjadi juga dengan industri kretek. Lembaga dunia yang paling gencar mengampanyekan anti tembakau adalah WHO (World Health Organization). Namun belakangan diketahui, kampanye tersebut didukung oleh perusahaan yang memroduksi obat-obatan penghenti kebiasaan merokok (hal. 109).
Sinyalemen berikutnya adalah, hadirnya regulasi anti-tembakau seperti Udang-undang Kontrol Tembakau di Amerika Serikat, yang melarang penjualan rokok yang mengandung zat adiktif seperti cengkeh. Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh produksi dan peredaran rokok mentol yang diproduksi di Amerika Serikat.
Untuk membatasi impor tembakau ke dalam negeri, Amerika Serikat juga membebani bea masuk yang sangat tinggi bagi produk tembakau. Bahkan kretek pun dilarang masuk, termasuk dari Indonesia. Sementara itu, perusahaan rokok terbesar di negeri itu, melebarkan sayapnya di luar negeri dengan mencaplok perusahaan rokok di puluhan negara. Ini adalah cara untuk melindungi industri tembakau dalam negeri Amerika Serikat.
Lebih jauh, kelompok-kelompok yang didanai korporasi multinasional ikut membatasi petani untuk menanam tembakau. Alhasil, Indonesia tidak kuasa membatasi impor tembakau. Sekali lagi, ini memperlihatkan bahwa negara-negara maju memang memiliki kepentingan dengan industri tembakau.
Muaranya, industri kretek dalam negeri mengalami ancaman. Ini tidak hanya akan memengaruhi pendapatan dari cukai rokok, melainkan juga meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, industri kretek adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja.
Jika hal ini tidak ditanggapi secara serius, industri kretek nasional yang pernah mengalami masa keemasan, akan bernasib sama dengan industri lain yang kini hanya menyisakan jejak kecil. Itu sebabnya lembaga dan otoritas terkait perlu melakukan sesuatu untuk mencegahnya
4.7       Memasuki Wilayah Kesehatan Publik
Mengingat bahwa pada tahun 1980-an bdan-badan kesehatan masyarakat sudah bersiaga penuh untuk melancarkan serangan maut terhadap perilaku merokok sebagai isu kesehatan publik, perusahaan-perusahaan farmasi melihat munculnya peluang emas untuk menawarkan produk-produk nikotin mereka sendiri sebagai alat bantu berhenti merokok. Jelas tidak ada yang lebih menguntungkan dibandingkan kenyataan bahwa lembaga-lembaga terhormat seperti Surgeon General, AMA, American Cancer Society, American Lung Association, American Heart Association, Centers for Disease Control, National Cancer Institute, dan badan-badan pemerintah AS lainnya (dan kemudian juga WHO) sungguh-sungguh membantu memasarkan obat-obatan berhenti merokok sebagai bagian dari program pemberantasan merokok.
Pada awal tahun 1990-an perusahaan-perusahaan farmasi mulai membangun kemitraan dengan lembaga-lembaga kesehatan publik. Pada tahun 1991, Robert Wood Johnson Foundation (RWJF), pemegang saham tunggal terbesar Johnson & Johnson, memulai program hibah anti-tembakau, mendanai program-program anti-tembakau dan riset kecanduan nikotin. Pada tahun 1995, seorang wakil RWJF duduk di komite Antar lembaga AS untuk Rokok dan Kesehatan, membantu mengoordinasikan program pengendalian tembakau nasional. Pada tahun 1996, Centers for Disease Control memasukkan RWJF sebagai mitra untuk pengendalian tembakau. Pada tahun 1996, RWJF, National Cancer Institute dan National Institute on Drug Abuse mengumumkan bahwa “Pusat Penelitian Penggunaan Tembakau Transdisipliner” yang didanai dan dirancang bersama-sama telah didirikan di tujuh lembaga akademis.
Perusahaan-perusahaan farmasi besar lainnya pun semakin banyak mendanai pengendalian tembakau di AS dan negara-negara lain. Pada Januari 1999, Gro Harlem Brundtland mengumumkan bahwa Glaxo Wellcome, Novartis dan Pharmacia telah bermitra dengan WHO dalam program anti-tembakau.
Badan-badan kesehatan publik global kini berjoget mengikuti gendang yang ditabuh perusahaan-perusahaan farmasi:
1.      Menaikkan pajak tembakau sehingga harga produk-produk farmasi lebih kompetitif dibandingkan produk tembakau
2.      Melekatkan cap jahat terhadap industri tembakau dan melarang iklan produk-produk mereka
3.      Memberlakukan larangan merokok untuk memaksa para perokok agar berusaha berhenti merokok dengan menggunakan produk-produk farmasi atau memakai produk-produk pengganti nikotin sebagai penyulih di saat mereka tidak dapat merokok
4.      Mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan nikotin
5.      Mempromosikan rangkaian penanganan lengkap bagi kecanduan nikotin melalui asuransi kesehatan negeri maupun swasta
Seluruh siasat itu jelas mendongkrak laba perusahaan-perusahaan farmasi. Dan itulah sebabnya mereka mampu mendanai pesta raya besar-besaran bebas pajak untuk badan-badan pengendalian tembakau global di Chicago pada Agustus 2000, yakni Konferensi Dunia tentang Tembakau dan Kesehatan ke-11. Perusahaan-perusahaan farmasi merasa bahwa mereka sudah berada di jalur yang benar untuk memenangkan perang nikotin.
4.8       Industri Tembakau sebagai Kambing Hitam
Selama tahun 1990-an, industri farmasi sendiri menghadapi sejumlah masalah kehumasan yang serius. Di antaranya, mereka dikecam karena teknik pemasaran mereka yang sifatnya memaksa dan karena mempertahankan harga tinggi yang menipu untuk produk-produknya. Bergesernya perhatian masyarakat (dan para penegak hukum yang mewaspadai pelanggaran) yang lantas tertuju pada dosa-dosa industri tembakau membantu mengalihkan perhatian dari dosa-dosa perusahaan farmasi.
Karena itu tidak mengejutkan jika Nancy Kaufman dari RWJF menilai hibah yayasan itu kepada para ekonom sebagai “investasi yang menguntungkan”, yakni untuk “mengembangkan formula penghitungan biaya merokok bagi program bantuan kesehatan negara, sehingga memungkinkan jaksa agung menggugat industri tembakau.” (wawancara Philippe Boucher, “Rendez-vous with…..Nancy J. Kaufman,” 16 Februari 2001).



BAB IV
PENYAJIAN & ANALISIS DATA

5.1   Analisis Framing
Analysis Framing antara Portal Berita KOMPAS.com dan detiknews.com
TGL
PORTAL
BERITA
JUDUL
EKSEMPLAR
KUTIPAN
NARASUMBER
Kamis, 31 Mei 2012 | 16:52 WIB.
KOMPAS.com
Komunitas Kretek: Anti Tembakau Agenda Asing.
Memperingati Hari Tanpa Tembakau, puluhan aktivis Komunitas Kretek wilayah Surabaya menggelar aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo Surabaya, Kamis (31/5/2012) siang. Dalam aksi itu, mereka menuding kampanye anti tembakau yang digalakkan pemerintah Indonesia selama ini adalah agenda asing yang terselubung..
Menurut koordinator aksi, Rahman, aksi yang digelar ini ditujukan untuk mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terkecoh dengan kampanye - kampanye manis pemerintah yang seolah - olah peduli terhadap isu kesehatan. ''Jika dikupas akan tampak rencana memuluskan perusahaan-perusahaan rokok multinasional dan farmasi dalam menguasai pasar Indonesia,'’.

Kamis, 31 Mei 2012 | 14.25 WIB.

detiknews.com

Massa Pro & Anti Rokok di Yogya Peringati Hari Anti Tembakau Sedunia.

Hari tanpa tembakau sedunia yang diperingati hari ini, dijadikan ajang mencari perhatian kelompok pro dan anti rokok. Kedua kelompok ini menggelar aksi secara bersamaan. Kelompok anti rokok terdiri dari pelajar, guru, PNS dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Mereka menggelar aksi di beberapa tempat seperti halaman DPRD DIY, Balai kota Yogyakarta, Tugu Yogya dan titik nol kilometer di simpang empat Kantor Pos Besar Yogyakarta. Sementara, massa pro rokok menggelar aksi long march dari Taman Parkir Abu Bakar Ali melewati Malioboro dan berakhir di titik nol kilometer.
Mereka menyerukan adanya perlindungan bagi para perokok pasif. Selain itu, mereka juga menyerukan agar semua pihak mengawasi para perokok muda dengan usia 15-24 tahun. "Kami prihatin jumlah perokok terus bertambah dan belum berkurang dan masih ada sekitar 48,3 persen keluarga di Yogya yang anggota keluarganya merokok,". Sementara itu, massa pendukung rokok membawa dua replika batang rokok berukuran jumbo di kawasan Malioboro. Mereka mengingatkan pelarangan rokok sebagai bagian dari perang global industri kapitalis. "Kita harus mewaspadai adanya pembatasan merokok dan industri rokok oleh pihak asing. Ini bagian dari perang bisnis global. Rokok sebagai produk Indonesia tidak boleh dikuasai asing. Rokok kretek itu budaya asli Indonesia," kata Ary, salah satupeserta aksi.

Kamis, 31 Mei 2012 | 13:50 WIB.

KOMPAS.com
RS Fatmawati Gelar Kampanye Anti Rokok

Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada hari ini (31/5), RS. Fatmawati menggelar kampanye simpatik untuk menyampaikan pesan-pesan bahaya rokok dan betapa segarnya udara tanpa asap rokok. Kampanye yang digelar kepada pasien itu dipimpin langsung oleh Direktur Medik dan Keperawatan RS Fatmawati dr. Lia G. Partakusuma.

"Tidak cuma acara kampanye ini saja. Nanti kami akan adakan penyuluhan terhadap karyawan, pasien, dan pengunjung," kata dr. Lia kepada wartawan saat kegiatan berlangsung.
Kamis, 31 Mei 2012 | 18.36 WIB.

detiknews.com

Peringati Hari Tanpa Tembakau, Rokok Ditukar Bunga Mawar
Peringatan hari tanpa tembakau se-dunia di Bali diperingati dengan berbagai aksi simpatik, seperti yang dilakukan relawan anti tembakau yang melakukan kunjungan mendadak ke kantor - kantor pemerintahan. Mereka menukar rokok dengan bunga mawar. Salah satu yang mereka datangi adalah Kantor Gubernur Bali, Jl Basuki Rahmat Nitimandala Denpasar. Di sana para relawan memergoki sejumlah pegawai yang masih merokok, Kamis (31/5/2012).  Kabag Perencanaan dan Anggaran Ditjen Dikti Kemdikbud (dulu Kemendiknas).

"Relawan kami sengaja menukarkan bunga mawar dengan rokok yang dimiliki para pegawai yang sedang merokok," kata Kepala Seksi Pencegahan Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ayu Rai Andayani, kepada wartawan Kamis (31/5/2012).







BAB V
KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari Analisis Framing antara Portal Berita KOMPAS.com dan detiknews.com menurut kelompok kami adalah sebagai berikut:
1.      Portal berita detiknews.com lebih terkesan “angin-anginan” (hit and run) dalam pemberitaan mengenai aksi yang menyangkut tentang Hari Anti Tembakau Sedunia, selain itu juga kurang mengutamakan etika-etika dalam menyangkut dengan ranah kejurnalistikan karena detiknews.com tidak sebegitu “cover boothside” atau kurang berimbang dalam pemberitaan tentang peringatan aksi hari anti tembakau. Portal berita detiknews.com hanya menampilkan pemberitaan dari kalangan-kalangan yang pro dengan adanya peringatan hari anti tembakau sedunia, tanpa menampilkan berita yang mengenai pihak-pihak yang kontra dengan peringatan tersebut, misal: komunitas kretek, masyarakat yang berprofesi sebagai buruh pabrik rokok, dan petani-petani tembakau yang ada di seluruh nusantara.
2.      Portal berita KOMPAS.com lebih obyektif, memuat pemberitaan tentang kedua belah pihak antara yang pro dan yang kontra tentang adanya agenda asing dibalik peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia. Dari pihak yang pro terhadap peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia adalah orang-orang yang bergelut di dunia farmasi. Dari pihak yang kontra terhadap peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia antara lain para petani tembakau, buruk pabrik rokok tembakau, serta komunitas kretek.

DAFTAR PUSTAKA


Eriyanto. 2002. Analisis Framing: konstruksi, ideologi, dan politik. Yogyakarta :  LKiS
Hamilton, W. Nikotin War; Perang Nikotin Dan Para Pedagang Obat, penerjemah, Sigit Djatmiko.  Yogyakarta : INSISTPress & Spasimedia, 2010.
Topatimasang, R., EA, P., Ary, H. KRETEK Kajian Ekonomi & Budaya 4 Kota. Yogyakarta : Indonesia Berdikari & Spasimedia, 2010.
Ary, H., Harlan, M., DM, A. 2011. Membunuh Indonesia, konspirasi global Penghancuran Kretek. Jakarta Selatan : Katakata.
Barber, Benjamin R. Jihad vs McWorld. Surabaya : Pustaka Promethea, 2002
Husaini, Adian. Wajah Peradaban Barat : dari hegemoni kristen ke dominasi sekuler-liberal. Jakarta : Gema Insani Press, 2005.
Patria, N., Arief, A., Prasetyo, E. Antonio Gramsci : negara & hegemoni. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999.